Selasa, 06 Mei 2025

Bali "Blackout"

 Mei 2025, Bali gelap. Ini bukan becanda, atau msksud lain. Bukan sebuah metafora perumpamaan. Ini benar-benar terjadi. Listrik di Bali padam hampir di seluruh pulau Dewata. 

Bahkan, operasional Bandara Ngurah Rai sempat terganggu. Hotel-hotel mewah di kawasan Nusa Dua menghidupkan genset cadangan. Kondisi yang sama juga dialami  lampu lalu lintas. 

Lampu jalan tak berfungsi, sinyal telepon tenggelam, dan pusat informasi publik senyap. Wisatawan asing mulai panik. Warga lokal pun tampak gelisah. Tapi yang paling menyesakkan bukan gelapnya kota tersebut, melainkan heningnya negara. Seolah mereka juga sedang "mati lampu".

Suasana yang mestinya menjadi pengalaman liburan justru berubah menjadi kepanikan kolektif. Orang-orang berkumpul, menunggu kabar yang tak kunjung tiba. Menanti penjelasan. Tapi yang datang bukan kejelasan—melainkan senyap. 

Ironisnya, ini bukan kali pertama. Blackout memang bukan hal baru, dan justru karena itu publik berharap respons pemerintah bisa lebih cepat. Lebih sigap memberitahukan apa yang terjadi. Negara diharapkan bisa hadir di tengah kekacauan, bukan sekadar hadir saat lampu sudah kembali menyala. 

Tapi Bali mengulang pola yang sama: komunikasi publik yang lambat, pesan yang tidak seragam, dan kebingungan antara pusat dan daerah soal siapa yang harus bicara lebih dulu. 

Padahal Bali bukan hanya pulau wisata—ia adalah wajah Indonesia yang dalam jangkauan mata dunia. Ketika listrik padam dan suara pemerintah ikut padam, bukan hanya cahaya yang redup, tapi citra pun ikut meredup. Apa mereka yang pegang kewenangan juga padam dengan muka masam? Entahlah...

Tapi entah kebetulan apa tidak, hari sebelumnya, cerita serupa terjadi ribuan kilometer dari Indonesia. Spanyol dan Portugal mengalami pemadaman listrik terbesar dalam sejarah modern mereka. Lima puluh juta orang terdampak mati lampu. Transportasi macet. Jaringan mati. Internet hilang total. 

Masyarakat terpaksa kembali mendengarkan radio karena semua kanal digital terputus. Tapi, seperti di Bali, yang lebih memicu kepanikan bukanlah padamnya lampu, melainkan absennya suara negara. Pemerintah hadir, tapi terlambat. Penjelasan diberikan, tapi tidak cukup jelas. Dalam ruang kosong itu, tumbuhlah yang tak diundang: rumor, spekulasi, teori konspirasi. Dan semua itu mengalir jauh lebih cepat daripada klarifikasi.

Dalam senyap masih ada suara yang bisa merambat cepat...

Senin, 05 Mei 2025

Cahaya di Balik Jendela Transjakarta

Setiap pagi, sebelum matahari Jakarta sepenuhnya bangun, Arya seperti juga ribuan pekerja komuter lainnya, sudah berdiri di halte Transjakarta. Rutinitasnya sederhana: naik busway dari rumahnya di pinggiran Jakarta menuju kantornya di daerah Sudirman. 

Pemandangan selama perjalanan biasanya monoton: gedung-gedung tinggi yang menjulang, lalu lintas yang mulai padat, dan wajah-wajah penumpang yang tampak lelah atau mengantuk.

Namun, pagi itu ada yang berbeda. Di halte tempat Arya menunggu, ia melihat seorang ibu tua penjual koran cetak. Wah, apa masih ada yang membeli koran saat ini. Apalagi, perusahaan koran itu sekarang banyak yang sudah tutup.

Tampak keriput di wajahnya menceritakan banyak kisah, namun matanya tetap berbinar penuh semangat saat menawarkan koran kepada setiap penumpang yang lewat. Arya membeli satu, bukan karena ingin membaca berita, tapi lebih karena ingin memberikan sedikit rezeki kepada ibu itu.

Ia sudah terbiasa mendapatkan informasi dari ponselnya. Apalagi, tidak mungkin membaca koran saat berada di dalam bus. Sekalipun senyaman Transjakarta sekarang.

Di dalam bus yang mulai penuh, Arya duduk di dekat jendela. Matanya kembali menangkap pemandangan yang tak biasa. Di tengah kesibukan para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan di pinggir jalan, ia melihat seorang anak kecil dengan seragam sekolah dasar sedang membantu ayahnya mendorong gerobak nasi uduk. Anak itu tampak ceria, sesekali melambaikan tangan kepada pengendara yang lewat.

Arya tertegun. Di tengah kerasnya kehidupan Jakarta, masih ada orang-orang yang berjuang dengan gigih namun tetap mempertahankan semangat dan kebaikan hati. Ibu penjual koran dengan senyumnya, anak kecil yang membantu ayahnya dengan riang – mereka adalah potret kecil dari ketangguhan dan harapan yang seringkali tersembunyi di balik gemerlap ibu kota.

Sesampainya di kantor, Arya tidak langsung tenggelam dalam pekerjaannya. Ia masih memikirkan pemandangan yang dilihatnya di jalan. Ia jadi teringat dengan mimpinya sendiri untuk membuka usaha kecil-kecilan di akhir pekan. Selama ini, ia selalu menunda-nunda karena merasa takut gagal atau tidak punya cukup waktu dan modal.

Namun, melihat semangat ibu penjual koran dan keceriaan anak kecil tadi pagi, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Mereka, dengan segala keterbatasan yang mungkin dimiliki, tetap berusaha dan tidak menyerah. Mengapa ia, dengan segala fasilitas dan kesempatan yang dimilikinya, justru merasa begitu takut untuk memulai?

Saat jam makan siang, Arya memutuskan untuk keluar kantor. Ia berjalan-jalan di sekitar taman dekat kantornya. Di sana, ia melihat seorang pengrajin sedang membuat miniatur ondel-ondel dari barang-barang bekas. Hasil karyanya unik dan menarik perhatian banyak orang. Arya menghampirinya dan terlibat dalam percakapan yang hangat.

Pengrajin itu bercerita tentang bagaimana ia memulai usahanya dari nol, dengan memanfaatkan barang-barang yang dianggap sampah oleh orang lain. Ia menghadapi banyak tantangan, namun kecintaannya pada budaya Betawi dan keyakinannya pada potensi barang bekas membuatnya terus bertahan.

Percakapan dengan pengrajin itu semakin menginspirasi Arya. Ia menyadari bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk tidak berkreasi dan berusaha. Justru, seringkali keterbatasan memicu ide-ide kreatif yang tak terduga.

Sore harinya, dalam perjalanan pulang, Arya kembali melihat ibu penjual koran di halte yang sama. Ia menghampirinya lagi. "Ibu, semangat sekali jualannya," kata Arya sambil tersenyum.

Ibu itu membalas senyum Arya. "Hidup ini harus semangat, Nak. Rezeki itu sudah ada yang mengatur, yang penting kita terus berusaha dan jangan lupa bersyukur."

Kata-kata sederhana ibu itu menancap dalam hati Arya. Ia merasa ada beban berat yang terangkat dari pundaknya. Ia tidak perlu menunggu waktu yang tepat atau memiliki modal yang besar untuk memulai mimpinya. Yang penting adalah keberanian untuk melangkah, semangat untuk berusaha, dan keyakinan bahwa selalu ada cahaya di balik setiap perjuangan.

Malam itu, Arya tidak langsung tidur setelah sampai di rumah. Ia mulai menuliskan ide-ide bisnis kecilnya. Ia tidak lagi merasa takut. Ia justru merasa bersemangat untuk mencoba, belajar, dan mungkin saja, suatu hari nanti, ia bisa menjadi seperti ibu penjual koran, anak kecil penjual nasi uduk, atau pengrajin ondel-ondel – orang-orang biasa di Jakarta yang tanpa sadar telah menyebarkan inspirasi melalui ketangguhan dan semangat hidup mereka. Cahaya itu, ternyata, bisa ditemukan di mana saja, bahkan di balik jendela Transjakarta yang penuh sesak.

Minggu, 04 Mei 2025

Aroma Kopi di Tengah Kemacetan

Perjalanan menuju tempat kerja setiap pagi, menjadi rutinitas yang membosankan. Namun, itu tetap harus dijalani. 

Mentari Jakarta pagi itu terasa lebih terik dari biasanya. Di dalam mobil Ayla merahnya, Ratih menghela napas panjang. Jalan Gatot Subroto sudah menjadi langganan macetnya setiap hari Senin. Sambil menunggu lampu merah yang tak kunjung hijau, matanya tak sengaja menangkap headline berita di ponselnya: "Fenomena Kopi Kekinian dengan Bahan Lokal Meroket, Saingi Gerai Asing."

Ratih tersenyum tipis. Ia jadi teringat obrolannya dengan ibunya semalam. Ibunya bercerita tentang kedai kopi kecil di dekat rumahnya di Depok yang kini ramai sekali. Bukan hanya karena kopi arabika Gayo yang memang juara, tapi juga karena inovasi rasa seperti kopi pandan dan kopi kelapa yang ternyata digemari banyak orang.

"Wah, ide bagus juga ya," gumam Ratih. Ia sendiri adalah seorang barista di sebuah kedai kopi waralaba di kawasan Kuningan. Rutinitasnya setiap hari nyaris sama: membuat latte art berbentuk hati atau rosetta di atas cangkir-cangkir kopi pesanan pelanggan kantoran yang terburu-buru. Terkadang, ia merasa sedikit jenuh dengan menu yang itu-itu saja.

Tiba-tiba, klakson mobil di belakangnya membuyarkan lamunannya. Lampu sudah hijau. Dengan sedikit tergesa, Risa menginjak gas.

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, ide tentang kopi dengan sentuhan lokal itu terus berputar di kepalanya. Bagaimana jika ia mencoba membuat kreasi kopi dengan rasa buah-buahan tropis seperti mangga atau sirsak? Atau mungkin menggunakan rempah-rempah khas Indonesia seperti jahe dan kayu manis?

Saat jam istirahat tiba, Ratih tidak langsung ke kantin seperti biasanya. Ia malah menuju ke sebuah toko buku kecil di dekat kantornya. Ia mencari buku-buku tentang kopi Indonesia dan resep-resep minuman unik. Matanya berbinar saat menemukan sebuah buku usang tentang minuman tradisional Nusantara. Di sana, ia menemukan berbagai resep menarik yang bisa diadaptasi menjadi minuman kopi kekinian.

Beberapa hari kemudian, Ratih memberanikan diri untuk menyampaikan idenya kepada manajernya. Awalnya, sang manajer terlihat ragu. Namun, setelah Ratih menjelaskan potensi pasar dan tren kopi lokal yang sedang naik daun, akhirnya ia memberikan lampu hijau untuk mencoba beberapa menu baru sebagai edisi terbatas.

Ratih sangat bersemangat. Ia bereksperimen dengan berbagai bahan lokal di dapur kecil kedai kopi tempatnya bekerja. Aroma pandan, kelapa, dan sedikit sentuhan cabai Jawa mulai tercium di antara aroma kopi yang sudah familiar. Beberapa pelanggan yang penasaran mulai mencoba kreasi Risa.

Tak disangka, sambutannya luar biasa! Kopi pandan latte dan es kopi kelapa aren menjadi best seller baru di kedai tersebut. Pelanggan bahkan rela antre untuk mencicipi rasa unik yang ditawarkan. Manajer pun tersenyum lebar melihat peningkatan penjualan.

Suatu sore, saat Ratih sedang meracik kopi pesanan, seorang pelanggan menghampirinya. "Mbak, kopi kelapa arennya enak banget! Lain dari yang lain," ujarnya sambil tersenyum.

Ratih ikut tersenyum. Ia merasa bangga karena idenya diterima dengan baik. Di tengah kerasnya persaingan bisnis kopi di Jakarta, ternyata sentuhan lokal mampu memberikan warna baru dan daya tarik tersendiri.

Sambil menutup kedai malam itu, Ratih kembali melihat headline berita tentang kopi lokal di ponselnya. Ia jadi teringat perjalanannya hari ini. Ternyata, inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari sebuah berita di tengah kemacetan Jakarta. Dan siapa sangka, aroma kopi dengan sentuhan Indonesia justru menjadi oase segar di tengah hiruk pikuk ibu kota.