Minggu, 04 Mei 2025

Aroma Kopi di Tengah Kemacetan

Perjalanan menuju tempat kerja setiap pagi, menjadi rutinitas yang membosankan. Namun, itu tetap harus dijalani. 

Mentari Jakarta pagi itu terasa lebih terik dari biasanya. Di dalam mobil Ayla merahnya, Ratih menghela napas panjang. Jalan Gatot Subroto sudah menjadi langganan macetnya setiap hari Senin. Sambil menunggu lampu merah yang tak kunjung hijau, matanya tak sengaja menangkap headline berita di ponselnya: "Fenomena Kopi Kekinian dengan Bahan Lokal Meroket, Saingi Gerai Asing."

Ratih tersenyum tipis. Ia jadi teringat obrolannya dengan ibunya semalam. Ibunya bercerita tentang kedai kopi kecil di dekat rumahnya di Depok yang kini ramai sekali. Bukan hanya karena kopi arabika Gayo yang memang juara, tapi juga karena inovasi rasa seperti kopi pandan dan kopi kelapa yang ternyata digemari banyak orang.

"Wah, ide bagus juga ya," gumam Ratih. Ia sendiri adalah seorang barista di sebuah kedai kopi waralaba di kawasan Kuningan. Rutinitasnya setiap hari nyaris sama: membuat latte art berbentuk hati atau rosetta di atas cangkir-cangkir kopi pesanan pelanggan kantoran yang terburu-buru. Terkadang, ia merasa sedikit jenuh dengan menu yang itu-itu saja.

Tiba-tiba, klakson mobil di belakangnya membuyarkan lamunannya. Lampu sudah hijau. Dengan sedikit tergesa, Risa menginjak gas.

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, ide tentang kopi dengan sentuhan lokal itu terus berputar di kepalanya. Bagaimana jika ia mencoba membuat kreasi kopi dengan rasa buah-buahan tropis seperti mangga atau sirsak? Atau mungkin menggunakan rempah-rempah khas Indonesia seperti jahe dan kayu manis?

Saat jam istirahat tiba, Ratih tidak langsung ke kantin seperti biasanya. Ia malah menuju ke sebuah toko buku kecil di dekat kantornya. Ia mencari buku-buku tentang kopi Indonesia dan resep-resep minuman unik. Matanya berbinar saat menemukan sebuah buku usang tentang minuman tradisional Nusantara. Di sana, ia menemukan berbagai resep menarik yang bisa diadaptasi menjadi minuman kopi kekinian.

Beberapa hari kemudian, Ratih memberanikan diri untuk menyampaikan idenya kepada manajernya. Awalnya, sang manajer terlihat ragu. Namun, setelah Ratih menjelaskan potensi pasar dan tren kopi lokal yang sedang naik daun, akhirnya ia memberikan lampu hijau untuk mencoba beberapa menu baru sebagai edisi terbatas.

Ratih sangat bersemangat. Ia bereksperimen dengan berbagai bahan lokal di dapur kecil kedai kopi tempatnya bekerja. Aroma pandan, kelapa, dan sedikit sentuhan cabai Jawa mulai tercium di antara aroma kopi yang sudah familiar. Beberapa pelanggan yang penasaran mulai mencoba kreasi Risa.

Tak disangka, sambutannya luar biasa! Kopi pandan latte dan es kopi kelapa aren menjadi best seller baru di kedai tersebut. Pelanggan bahkan rela antre untuk mencicipi rasa unik yang ditawarkan. Manajer pun tersenyum lebar melihat peningkatan penjualan.

Suatu sore, saat Ratih sedang meracik kopi pesanan, seorang pelanggan menghampirinya. "Mbak, kopi kelapa arennya enak banget! Lain dari yang lain," ujarnya sambil tersenyum.

Ratih ikut tersenyum. Ia merasa bangga karena idenya diterima dengan baik. Di tengah kerasnya persaingan bisnis kopi di Jakarta, ternyata sentuhan lokal mampu memberikan warna baru dan daya tarik tersendiri.

Sambil menutup kedai malam itu, Ratih kembali melihat headline berita tentang kopi lokal di ponselnya. Ia jadi teringat perjalanannya hari ini. Ternyata, inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari sebuah berita di tengah kemacetan Jakarta. Dan siapa sangka, aroma kopi dengan sentuhan Indonesia justru menjadi oase segar di tengah hiruk pikuk ibu kota.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar