Senin, 05 Mei 2025

Cahaya di Balik Jendela Transjakarta

Setiap pagi, sebelum matahari Jakarta sepenuhnya bangun, Arya seperti juga ribuan pekerja komuter lainnya, sudah berdiri di halte Transjakarta. Rutinitasnya sederhana: naik busway dari rumahnya di pinggiran Jakarta menuju kantornya di daerah Sudirman. 

Pemandangan selama perjalanan biasanya monoton: gedung-gedung tinggi yang menjulang, lalu lintas yang mulai padat, dan wajah-wajah penumpang yang tampak lelah atau mengantuk.

Namun, pagi itu ada yang berbeda. Di halte tempat Arya menunggu, ia melihat seorang ibu tua penjual koran cetak. Wah, apa masih ada yang membeli koran saat ini. Apalagi, perusahaan koran itu sekarang banyak yang sudah tutup.

Tampak keriput di wajahnya menceritakan banyak kisah, namun matanya tetap berbinar penuh semangat saat menawarkan koran kepada setiap penumpang yang lewat. Arya membeli satu, bukan karena ingin membaca berita, tapi lebih karena ingin memberikan sedikit rezeki kepada ibu itu.

Ia sudah terbiasa mendapatkan informasi dari ponselnya. Apalagi, tidak mungkin membaca koran saat berada di dalam bus. Sekalipun senyaman Transjakarta sekarang.

Di dalam bus yang mulai penuh, Arya duduk di dekat jendela. Matanya kembali menangkap pemandangan yang tak biasa. Di tengah kesibukan para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan di pinggir jalan, ia melihat seorang anak kecil dengan seragam sekolah dasar sedang membantu ayahnya mendorong gerobak nasi uduk. Anak itu tampak ceria, sesekali melambaikan tangan kepada pengendara yang lewat.

Arya tertegun. Di tengah kerasnya kehidupan Jakarta, masih ada orang-orang yang berjuang dengan gigih namun tetap mempertahankan semangat dan kebaikan hati. Ibu penjual koran dengan senyumnya, anak kecil yang membantu ayahnya dengan riang – mereka adalah potret kecil dari ketangguhan dan harapan yang seringkali tersembunyi di balik gemerlap ibu kota.

Sesampainya di kantor, Arya tidak langsung tenggelam dalam pekerjaannya. Ia masih memikirkan pemandangan yang dilihatnya di jalan. Ia jadi teringat dengan mimpinya sendiri untuk membuka usaha kecil-kecilan di akhir pekan. Selama ini, ia selalu menunda-nunda karena merasa takut gagal atau tidak punya cukup waktu dan modal.

Namun, melihat semangat ibu penjual koran dan keceriaan anak kecil tadi pagi, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Mereka, dengan segala keterbatasan yang mungkin dimiliki, tetap berusaha dan tidak menyerah. Mengapa ia, dengan segala fasilitas dan kesempatan yang dimilikinya, justru merasa begitu takut untuk memulai?

Saat jam makan siang, Arya memutuskan untuk keluar kantor. Ia berjalan-jalan di sekitar taman dekat kantornya. Di sana, ia melihat seorang pengrajin sedang membuat miniatur ondel-ondel dari barang-barang bekas. Hasil karyanya unik dan menarik perhatian banyak orang. Arya menghampirinya dan terlibat dalam percakapan yang hangat.

Pengrajin itu bercerita tentang bagaimana ia memulai usahanya dari nol, dengan memanfaatkan barang-barang yang dianggap sampah oleh orang lain. Ia menghadapi banyak tantangan, namun kecintaannya pada budaya Betawi dan keyakinannya pada potensi barang bekas membuatnya terus bertahan.

Percakapan dengan pengrajin itu semakin menginspirasi Arya. Ia menyadari bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk tidak berkreasi dan berusaha. Justru, seringkali keterbatasan memicu ide-ide kreatif yang tak terduga.

Sore harinya, dalam perjalanan pulang, Arya kembali melihat ibu penjual koran di halte yang sama. Ia menghampirinya lagi. "Ibu, semangat sekali jualannya," kata Arya sambil tersenyum.

Ibu itu membalas senyum Arya. "Hidup ini harus semangat, Nak. Rezeki itu sudah ada yang mengatur, yang penting kita terus berusaha dan jangan lupa bersyukur."

Kata-kata sederhana ibu itu menancap dalam hati Arya. Ia merasa ada beban berat yang terangkat dari pundaknya. Ia tidak perlu menunggu waktu yang tepat atau memiliki modal yang besar untuk memulai mimpinya. Yang penting adalah keberanian untuk melangkah, semangat untuk berusaha, dan keyakinan bahwa selalu ada cahaya di balik setiap perjuangan.

Malam itu, Arya tidak langsung tidur setelah sampai di rumah. Ia mulai menuliskan ide-ide bisnis kecilnya. Ia tidak lagi merasa takut. Ia justru merasa bersemangat untuk mencoba, belajar, dan mungkin saja, suatu hari nanti, ia bisa menjadi seperti ibu penjual koran, anak kecil penjual nasi uduk, atau pengrajin ondel-ondel – orang-orang biasa di Jakarta yang tanpa sadar telah menyebarkan inspirasi melalui ketangguhan dan semangat hidup mereka. Cahaya itu, ternyata, bisa ditemukan di mana saja, bahkan di balik jendela Transjakarta yang penuh sesak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar